Talk Show Dosen PLS di Radio RRI

Peran pendidikan nonformal dalam pembangunan (perspektif pendidikan dan keikutsertaan masyarat dalam pembangunan)“.
Simpulan dari siaran langsung di RADIO RRI Semarang, secara umum, pendidikan nonformal yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 tentang jalur pendidikan nonformal, dapat disetarakan dengan pendidikan formal melalui satuan pendidikan yang terstadar pendidikan. Layanan pendidikan kesetaraan paket A setara SD/MI, paket B setara SMP/MTs, paket C setara SMA/MA. Sementara itu layanan pendidikan nonformal yang diselenggarakan oleh pemerintah itu mencakup life skills, PAUD, pusat pelatihan dan tenaga kursus, majelis taklim, dan lain sebagainya.

Keunggulan pendidikan nonformal dibanding formal Ada 3 hal:

  1. Karena programnya lebih cepat, dan biaya murah, nilai balik ekonomi lebih tinggi dibanding pendidikan formal, sebagai contohnya. Kursus cantikan biaya 5 juta, setelah selesai mereka bisa bekerja di salon atau membuka sendiri dan hasilnya bisa cepat dirasakan.
  2. Pedidikan nonformal lebih memiliki relevansi dalam kebutuhan masyarakat, karena tidak akademik seperti sekolah yang lepas dari kehidupan masyarakat. Sesuai dengan kebutuhan kehidupan.
  3. Fleksibel, programnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, butuh otodidak, kemandirian dalam belajar pembelajaran disesuaikan dengan learning society. Tidak memubutuhkan campur tangan pemerintah. Belajar bisa kapan diamna dan dengan siapa saja.

Itu semua adalah pendidikan nonformal yang dikelola oleh pemerintah 20 tahun 2003, sedangkan konsep pendidikan nonformal berdasarkan manuscript dan teori-teori yang terjadi dan banyak digunakan dunia ketiga, teruma dalam mengangkat kemiskinan potensi pendidikan ini sangat luas. Masyarakat pedesaan, bukan obyek pembanguman tapi mereka sebagai subyek pembangunan, maka mereka harus memilik pegetahuan sikap dan keterampailan untuk bisa terlibat dalam pembangunan yang ada di pedesaan.

Contoh nyata yag ada dalam masyarakat terkait dengan kearifan lokal, misalnya siapa yang memahirkan orang jepara mengukir, orang solo dan pekalongan membuat batik, orang kudus bisa melakkan kerajinan bordil. Itu semua terjadi karena masyarakat belajar. Potensi ini yang harusnya dipikirkan oleh pemerintah, bagaimana supaya magang di pusat-pusat daerah lokal itu lebih cepat dan kualitas produknya lebih baik. Selain itu yang perlu dipikirkan adalah Kurus, dan pelatihan itu juga harus mengikuti tuntutan perubahan dan kebutuhan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *